Minggu, 06 Februari 2022

Perlukah RI Tiru China Batasi Waktu Main Game Online Anak?

Perlukah RI Tiru China Batasi Waktu Main Game Online Anak?

Game Online

Tak dapat dipungkiri, kepopuleran game online kini telah merambah ke berbagai pelosok negeri. Menyasar para pelajar untuk memainkan gawai selama berjam-jam hingga lupa waktu lupa diri. Dampak negatif ini tampaknya telah dirasakan oleh China hingga memaksa pemerintah setempat mengambil langkah ekstrem dengan membatasi jam bermain game bagi anak di bawah umur.

Peraturan baru yang dibuat oleh Administrasi Pers dan Publikasi Nasional (NPPA) pada Senin (30/9) mengatur anak di bawah usia 18 tahun hanya boleh main game 3 jam per minggu, mulai dari pukul 20.00 hingga 21.00 pada Jumat, Sabtu, dan Minggu. Sementara bocah-bocah di China juga boleh bermain game pada hari libur nasional, dengan batasan waktu sama seperti akhir pekan.

Kebijakan baru ini lebih ketat dari peraturan sebelumnya yang memperbolehkan anak bermain game selama 1,5 jam setiap hari. Selain itu, China juga mewajibkan perusahaan pengembang game untuk membatasi produk mereka dimainkan bocah di luar jam tersebut. Selain itu, pemerintah China mewajibkan semua game online untuk ditautkan ke sistem anti-kecanduan dan perusahaan game dilarang memberikan layanan kepada pengguna tanpa registrasi ID asli. Pejabat China menyebut bahwa alasan batasan bermain game itu adalah untuk “melindungi kesehatan fisik dan mental” anak-anak.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Alzena Masykouri, psikolog anak dan remaja. Ia mengatakan bahwa penggunaan gawai berlebih memang bisa mengganggu psikolog anak ataupun remaja. Faktanya, penggunaan gawai oleh anak dan remaja juga menjamur di Indonesia. Beberapa anak bahkan dengan bebas menggunakannya tanpa ada batasan waktu. Selain menjadi gaya hidup baru, tren bermain game online di Indonesia juga telah melahirkan istilah-istilah baru di kalangan anak muda, terutama dalam segi penggunaan bahasa, yang paling santer adalah mabar (main bareng).

“Segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik. Untuk penggunaan gawai dengan segala aktivitasnya, memang seharusnya diatur dengan ketat untuk anak dan remaja. Alasan utamanya adalah karena mereka belum memiliki kendali diri dan masih lebih bermanfaat aktivitas non-gawai pada usia perkembangan mereka,” jelas Alzena, Selasa (5/10). Begitupun dengan game online. Jika digunakan tanpa aturan dan batasan, maka akan berdampak negatif. Masalahnya, kata Alzena, orang tua yang semestinya membimbing dan mengawasi akses anak dan remaja kerap merasa kewalahan. Apalagi jika anak dan remaja sudah kecanduan game online.

“Biasanya keluhan orang tua adalah karena anak remaja tidak mampu membagi waktu -tentu porsi bermain game online harusnya sangat kecil bila dibandingkan aktivitas lainnya,” kata Alzena. “Ditambah lagi aktivitas bermain game online biasanya melibatkan banyak orang tanpa dikenal secara nyata dan waktunya bisa berbeda zona waktu hingga mengganggu rutinitas anak dan remaja.”

Dampak lebih lanjut dari aktivitas tersebut akan mengganggu pada sosialisasi, interaksi aktif dan fisik, serta belajar anak. Hal ini juga berlaku pada remaja, di mana ia kerap kesulitan mengatur dirinya sendiri, hingga menimbulkan masalah dengan orang tua dan guru terkait kewajibannya sebagai anak dan pelajar. Soal apakah Indonesia perlu mencontoh China dengan membatasi waktu bermain game untuk anak? Alzena mengatakan, sebenarnya para pengembang aplikasi sudah memberikan anjuran batasan usia penggunanya. Sayang, sampai saat ini tidak ada filter yang benar-benar efektif.

"Kalau pemerintah bisa membuat regulasi sehingga pengunduhan aplikasi internet gaming harus sesuai usia tertentu, mungkin hal ini akan bermanfaat."
-Azlena Masykouri, Psikolog Anak dan Remaja-
Tapi lagi-lagi, dalam hal ini peran orang tua adalah yang utama. Sudah semestinya orang tua berperan sebagai pembimbing dan pemantau anak remaja dalam menggunakan gawai. Dengan cara membuat kesepakatan aturan dan batasan penggunaan gawai dengan anak dan remaja. “Hak dan kewajiban anak remaja terhadap gawai pun diberikan secara bertahap dengan konsekuensi yang jelas. Ini peran penting orangtua, yang sayangnya sering terabaikan,” papar Alzena.

Kata Kominfo soal Aturan Batas Main Game Online Anak

Merespons hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengatakan bahwa ketentuan pembatasan waktu bermain game sesuai usia sebenarnya telah tercantum dalam Peraturan Menteri Kominfo No. 11 Tahun 2016 tentang Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik. Aturan tersebut terdapat ketentuan agar developer atau publisher game memberikan anjuran batasan waktu penggunaan game berdasarkan usia.

Saat ini, Kominfo tengah menyusun revisi peraturan tersebut, yang nantinya akan mengatur fitur-fitur dalam game secara lebih komprehensif. Tujuannya untuk memastikan game tersebut aman dan bermanfaat saat dimainkan oleh anak-anak. "Kominfo juga terlibat dalam kegiatan Kementerian Pemberdayaan PPPA dalam melihat potensi game sebagai edukasi anak, dan pemberian edukasi bagi orang tua dalam memilih permainan untuk anak-anak mereka. Selain itu, upaya koordinasi dengan stakeholder terkait lainnya selalu dilakukan," papar Kominfo dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Rabu (6/10).

Lantas, apakah Kominfo akan meniru kebijakan yang dilakukan China?

Pihaknya menilai bahwa salah satu langkah untuk memastikan pemanfaatan game secara proporsional bagi anak adalah dengan mengaktifkan fitur parental control pada gawai yang digunakan untuk bermain game.

Fitur parental control dapat dimanfaatkan orang tua untuk melakukan pembatasan dan pengawasan terhadap anak-anak. Alih-alih mengeluarkan kebijakan macam China, pemerintah lebih memilih mengajak para pemilik platform, komunitas, dan guru untuk memberikan pemahaman atas fitur yang sedang digodok tersebut, sehingga akan membantu pendampingan orang tua terhadap anak dalam penggunaan gawai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dapat Tiket Lotere yang Salah, Pria Ini Malah Menang Rp 29,6 Miliar

Dapat Tiket Lotere yang Salah, Pria Ini Malah Menang Rp 29,6 Miliar Pepatah berbunyi malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih mungki...