Minggu, 06 Februari 2022

Potensi Kecanduan Berjudi dari Game Online

Potensi Kecanduan Berjudi dari Game Online

Kita semua pasti pernah bermain game online. Di tengah situasi pandemi ini, game online menjadi salah satu sarana kita melepaskan penat dan jenuh karena tidak bisa leluasa bepergian ke luar. Sayangnya, dewasa ini makin banyak game online yang mengandung unsur-unsur perjudian yang beragam, seperti sistem lootbox atau gacha yang merupakan bentuk lain dari undian, di mana pemain dapat mengeluarkan uang untuk kesempatan mendapatkan barang atau Item tertentu dalam game yang dapat membantu pemain melanjutkan progress game tersebut. Mudahnya akses masyarakat pada permainan-permainan seperti ini menimbulkan risiko besar terjadinya kecanduan berjudi atau Gambling Disorder.

Sebelum kita membahas lebih lanjut akan bagaimana seseorang bisa mengalami kecanduan berjudi dari bermain game online, ada baiknya kita tahu dulu apa kecanduan atau adiksi itu sendiri. Berdasarkan American Psychological Association, Adiksi merupakan gangguan kronis dengan faktor biologis, psikologis, sosial, dan faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan. Lebih lanjut, menurut Badan Narkotika Nasional, Adiksi didefinisikan sebagai suatu ketergantungan fisik dan mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya.

Adiksi pada seseorang terjadi karena pengeluaran dopamin oleh otak, yaitu zat yang membantu otak mengingat pengalaman, baik positif maupun negatif. Pengeluaran dopamin ini terjadi pada sistem limbik, atau disebut juga pusat kesenangan atau “Reward Center”, yang memberikan motivasi pada seseorang untuk mengulangi pengalaman yang menyenangkan. Dalam kondisi normal, hal ini membantu fungsi biologis pada seseorang seperti makan, tidur, dan berhubungan sex.

Tetapi, ketika seseorang mengalami kecanduan, mereka akan mengulangi kegiatan tertentu untuk merangsang pengeluaran dopamine yang berlebih, sehingga mereka dapat merasakan kesenangan yang lebih dari yang biasa mereka dapatkan. Pengeluaran dopamin yang berlebihan ini dilakukan berulang kali oleh seseorang, hingga pada titik tertentu, reseptor dopamine mengalami desentisasi (berkurangnya sensitivitas reseptor dopamine) dan memerlukan stimulus yang lebih besar lagi agar otak dapat merasakan kesenangan yang sama. Hal ini terus berulang dan akhirnya menyebabkan kecanduan pada individu.

Lalu, bagaimana game online dapat menyebabkan kecanduan berjudi?

Pertama, kita harus paham apa itu sistem lootbox atau gacha dalam game online. Mereka merupakan barang dalam game yang bisa dibeli menggunakan uang nyata dan memberikan pemain sebuah kesempatan untuk mendapatkan reward secara acak (Zendle D., dkk.). Sistem seperti ini tentu telah lama kita kenal dengan nama undian, di mana kita memiliki kesempatan acak untuk mendapatkan sesuatu. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh University of York dan Queen Mary University of London di Inggris, 58% dari game terlaris di Google Play store dan 59% dari game terlaris di Apple App store mengandung sistem Lootbox ini, dan mayoritas memiliki rating yang sesuai untuk anak-anak 12 tahun ke atas.

Anak-anak dan remaja, ketika memainkan game-game tersebut, pada suatu waktu akan menginginkan untuk mendapatkan sebuah barang dalam game, entah berupa senjata, karakter, atau kostum baru, tetapi barang-barang tersebut hanya bisa didapat melalui sistem lootbox. Mereka pun akhirnya mencoba mengeluarkan uang ke dalam game. Awalnya, hanya sedikit dari uang jajan yang mereka keluarkan untuk mencoba. Sayangnya, mereka tidak beruntung dan gagal mendapatkan barang tersebut. Mereka kemudian mengeluarkan uang lagi, berharap kali ini beruntung, tetapi gagal lagi. Hal ini berulang hingga akhirnya mereka mendapatkan barang yang diinginkan, atau uang mereka habis terlebih dahulu.

Siklus seperti ini secara perlahan merangsang otak untuk mengeluarkan dopamin setelah mendapatkan reward yang diinginkan, yang jika berkelanjutan dapat menyebabkan desentisasi dan perubahan pada otak, khususnya daerah striatum dan prefrontal cortex (PFC). Yang lebih parah lagi, perilaku yang ditunjukan oleh pemain-pemain game dengan sistem lootbox ini, khususnya perilaku “mengejar kerugian” (Loss-Chasing Behaviour) dengan mengeluarkan uang lebih banyak lagi hingga mendapatkan barang yang diinginkan, memiliki kemiripan dengan perilaku yang ditunjukkan oleh individu dengan Gambling Disorder, di mana bagian Orbitofrontal Cortex pada otak mereka mengalami penurunan aktivitas dibandingkan individu yang normal. Orbitofrontal Cortex merupakan bagian otak yang berperan dalam melacak kerugian dan mengubah perilaku ketika tidak berhasil melakukan sesuatu. Hal itu bisa menjadi salah satu penjelasan kenapa beberapa pemain game-game tersebut dapat mengeluarkan uang hingga puluhan ribu dolar (ratusan juta rupiah), seperti yang pernah dilansir di beberapa artikel online.

Oleh sebab itu, ada baiknya kita lebih cermat lagi dalam mengkonsumsi hiburan kita, baik dalam bentuk virtual maupun fisik. Cara terbaik untuk menghindar dari kecanduan ini tentu saja adalah dari diri kita sendiri, yaitu senantiasa memiliki mindfulness untuk tidak termakan oleh nafsu kita. Tetapi, mencari bantuan lain dari psikolog maupun psikiater juga tidak ada salahnya apabila kita merasa tidak mampu menghentikan rasa kecanduan tersebut seorang diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dapat Tiket Lotere yang Salah, Pria Ini Malah Menang Rp 29,6 Miliar

Dapat Tiket Lotere yang Salah, Pria Ini Malah Menang Rp 29,6 Miliar Pepatah berbunyi malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih mungki...